Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

ROMLI SUDAH MATI, TAPI MASIH MENJEMPUT RITA

Penulis Abun Burhanudin 


Bagian 1 — Kakak yang Datang Lebih Dulu

Rita tidak pernah menyangka, keputusan pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan justru membawanya ke sebuah pengalaman yang akan menghantui hidupnya.

Perempuan asal Priangan Timur itu berangkat lebih dulu meninggalkan kampung halaman.

Kakaknya, Romli, menyusul beberapa waktu kemudian.

Sebelum berangkat, Romli sempat berpesan,

“Kalau sudah sampai Jakarta, jangan ke mana-mana dulu. Tunggu Kakak.”

Rita mengangguk.

“Iya, Kak.”

Tidak ada yang aneh dari percakapan itu.

Tidak ada firasat.

Tidak ada tanda bahwa sebuah tragedi sedang menunggu Romli di perjalanan.


Rita tiba di Jakarta menjelang sore.

Setelah menemukan rumah kost yang akan ditempatinya, ia membereskan pakaian dan beristirahat.

Malam mulai turun.

Jakarta semakin ramai.

Suara kendaraan dari jalan raya terdengar bersahutan.

Rita baru saja hendak berbaring ketika terdengar suara ketukan.

Tok… tok… tok…

Rita bangkit.

Ia membuka pintu.

Dan seketika wajahnya berubah.

“Kak Romli?”

Romli berdiri di depan pintu.

Rita tersenyum lega.

“Kok cepat sekali? Bukannya berangkat belakangan?”

Romli hanya tersenyum tipis.

“Sudah sampai.”

Rita mempersilakannya masuk.

Namun beberapa detik kemudian, senyumnya perlahan menghilang.

Ada sesuatu yang berbeda dari Romli.

Wajah kakaknya sangat pucat.

Matanya terlihat sayu.

Bibirnya seperti kehilangan warna.

Dan yang paling aneh…

Romli tidak banyak bicara.

Padahal biasanya, kakaknya adalah orang yang paling banyak bercanda.

“Kakak kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kok pucat?”

Romli menatap Rita.

“Cuma capek.”

Rita mengangguk.

Ia mencoba tidak memikirkan keanehan itu.

Namun ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan…

Rita tersentak.

Tangan Romli terasa sangat dingin.

Seperti baru keluar dari air es.

Rita menatap kakaknya.

Romli hanya tersenyum.

“Tidurlah.”

Malam itu Rita berusaha memejamkan mata.

Tetapi entah mengapa, perasaan tidak nyaman terus menghantuinya.

Ia tidak tahu…

bahwa orang yang sedang tidur beberapa meter darinya

 sebenarnya sudah tidak seharusnya berada di dunia ini.

Bersambung...!

Posting Komentar

0 Komentar

Bottom Ad [Post Page]

Post Page Advertisement [Top]