Khas - Kisah Nyata
Berita kejadian Horor kali ini dialami seorang lelaki paruh baya bernama Arnol 53 (Bukan nama sebenarnya). Dia menceritakan peristiwa yang dialaminya sekitar tiga tahun yang lalu.
Menurutnya, saat menjadi ojek, Arnol pernah membawa penumpang yang ternyata adalah arwah teman lamanya yang baru saja meninggal. Inilah kisah horor yang dialami Arnol
Arnol adalah seorang perantau asal Kuningan yang sempat tinggal di beberapa kota. Pernah mengalami hidup di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Namun belakangan, karena terjadi sesuatu hal, Arnol akhirnya kembali ke Kuningan.
Di Kuningan, Arnol sudah tidak memiliki apa apa. Rumah dan semua aset lainnya, yang merupakan warisan dari orang tuanya sudah habis terjual. Karenanya, dia bersama istri dan anak semata wayangnya terpaksa tinggal di rumah kontrakan. Itupun harus berpindah pindah tempat lagi karena tidak sanggup bayar. Walau demikian, Arnol tetap sabar.
“Ya.. Gimana lagi. Saya sadar bahwa ini adalah jalan hidup saya yang sudah ditentukan Allah. Saya harus bisa menerima semuanya,” kata Arnol, bercerita kepada Tabloid KHAs saat dirinya pulang dari mesjid.
Arnol bercerita, suatu hari pernah mengalami peristiwa aneh. Saat sedang mengojek, dia pernah bawa penumpang yang ternyata arwah temannya yang baru saja meninggal. Anehnya, sejak kejadian itu, kehidupan Arnol berubah. Dia tidak lagi sesulit hari hari sebelumnya. Begini ceritanya.
Sore itu, Arnol terlihat sangat gelisah. Besok, Arnol harus ada uang 200rb rupiah, untuk bayar kegiatan Camping anaknya di sekolah.
Memang angka 200rb kecil bagi kebanyakan orang orang. Tapi, bagi Arnol uang senilai itu sangat besar. Pendapatannya sehari hari yang mengandalkan kerja serabutan hanya cukup untuk makan. Bahkan seringkali sampai harus menahan lapar karena membeli beraspun tidak ada.
Arnol betul betul bingung. Sudah pinjam ke tetangga,tapi tak ada yang memberi. Tak heran, karena hampir ke semua tetangganya Arnol sudah punya hutang.
Untungnya, kata Arnol, ada seorang temannya yang mau menolong.
“Kalau uang aku tidak punya. Tapi kamu boleh pinjam motorku buat ngojek malam ini,“ kata temannya, seperti yang dikisahkan Arnol.
Arnol tentunya merasa senang. Tak peduli waktu sudah mulai gelap ditambah hujan gerimis, Arnol segera pergi membawa motor temannya untuk ngojek.
Di jalan, Arnol masih bingung. Betapa tidak, di sini dia baru beberapa bulan. Meski asli orang orang Kuningan, tapi keadaan sudah banyak berubah. Arnol bingung, dimana dia harus mangkal.
“Akhirnya saya fikir Rumah Sakit lah tempat yang tepat. Karena di sana banyak pengunjung yang pulang pergi,” kisah Arnol lagi.
Waktu sudah kita kira jam 19 lewat. Hujan masih turun lebat. Arnol sudah nongkrong nunggu penumpang di sebrang jalan rumah sakit depan sebuah warung kopi. Di sana Arnol nangkring lebih dari dua jam, tapi belum juga dapat tumpangan. Arnolpun mulai tampak gelisah.
Malam pun semakin larut. Hujan mulai reda. Kendaraan yang lalu lalang di jalan sudah berkurang. Toko toko dan warung kopi sudah mulai banyak yang tutup. Suasana mulai terasa sepi. Arnol masih saja bertahan nunggu penumpang. Fikirnya, besok anaknya harus ikut kegiatan. Arnol tidak mau anaknya menjadi bahan bullyan teman temannya seperti waktu waktu sebelumnya.
“Pernah anak saya dibully teman temannya karena tidak membeli buku LKS. Anak saya menangis dan hampir berhenti sekolah. Peristiwa itu membuat hati saya merasa teriris. Saya tidak ingin lagi terjadi seperti itu. Makanya saya bertahan,” tutur Arnol dengan wajah yang terlihat sedih.
Dengan penuh rasa sabar, Arnol terus menunggu datangnya penumpang yang dia harapkan. Sementara keadaan semakin tambah sepi. Bahkan warung tempat dia nangkring pun sudah tutup. Arnol tetap saja bertahan dengan tubuh kedinginan tanpa rokok tanpa kopi.
Sampai tengah malam, Arnol belum juga dapat penumpang. Hujan masih turun rintik rintik. Arnol semakin kedinginan. Tiba tiba terdengar suara anjing melolong di kejauhan.
Bulu kuduk Arnol terasa merinding. Dada berdebar. Arnol merasa ketakutan. Namun, mau pulang juga merasa tanggung.
Saat lagi takut begitu, tiba-tiba ada yang menepuk pundak. Terasa dingin. Arnol kaget. Sontak dia nengok ke belakang. Begitu di lihat, ternyata Eva, teman lamanya waktu sekolah di SMA.
Sejanak mereka saling pandang. Lama lama Eva nanya, ekspresinya kayak kaget gitu.
“Kamu Arnol? Ngapain kamu di sini?” kata Eva, Seperti yang ditirukan Arnol.
Arnol menjawab dirinya sedang nyari tumpangan. Lalu balik nanya, kalau Eva sendiri lagi apa? kata Eva, dia dari rumah sakit dan sekarang mau pulang.
“Kebetulan ada kamu.. Ayo antar aku pulang,” kata Eva lagi, seperti yang ditirukan Arnol.
Arnol senang. Lalu nyuruh Eva naik ke motornya. Eva pun naik dengan posisi menghadap ke samping. Sételah distarter motor yang dikemudikan Arnol pun melaju. Awalnya pelan, lama lama melesat cepat.
Namun, saat itu ada hal yang aneh yang dirasakan Arnol. Ekspresi Eva terlihat datar walaupun dia tersenyum. Saat dibonceng, tangannya terasa dingin seperti es. Namun saat itu, Arnol tidak kepikiran yang aneh. Dikiranya hal biasa karena dingginnya cuaca malam. Apalagi dalam keadaan hujan yang masih gerimis.
“Hal aneh lainnya yang saya rasakan, saat saya bawa motor nganterin Eva. Saya merasa diikuti terus lolongan anjing,” kisah Arnol lagi.
Setengah jam kemudian, sampailah mereka ke rumah Eva. Motor Arnol pun berhenti. Ternyata di rumah Eva terlihat banyak orang, ngumpul seperti mau hajatan. Tapi karena sudah terlalu malam. Arnol tidak banyak bertanya.
Eva turun, ngajak Arnol mampir dulu ke rumahnya. Tapi Arnol menolak karena sudah terlalu malam. Arnol pamit, Eva mengiyakan. Setelah ongkos ojek dibayar Arnol menyalakan lagi motornya. Tapi motor tina-tiba mogok tidak mau jalan.
Arnol berkali kali nyalain motor tapi tetep saja motor tidak juga hidup. Arnol bingung.
Tiba-tiba mobil ambulan datang masuk ke pelataran rumah Eva. Arnol kaget, “siapa yang meninggal? Apakah keluarganya Eva? Tapi kenapa tadi Eva nggak bilang bilang,” begitu pertanyaan Arnol dalam hati.
Terdorong oleh rasa penasaran, Arnol terpaksa tidak jadi langsung pulang. Dia memarkirkan motornya, lalu buru buru pergi ke rumah Eva.
Alangkah kagetnya Arnol, saat dia bertanya ke orang orang, ternyata yang meninggal itu Eva.
“Lho.. Kalau Eva yang meninggal terus siapa yang tadi dia bonceng?” kata Arnol dalam hati.
Arnol benar benar bingung mikirin kejadian itu. Sekujur badannya terasa lemas, matanya berkunang kunang. Jampe saja dia pingsan di tempat itu.
“Begitulah kisahnya.. Ini bener bener saya alami. Tapi sejak kejadian itu, rejeki saya seperti mudah.
Tidak lagi sesulit sebelumnya,” kata Arnol, menutup ceritanya.
(Nia/Indri)

0 Komentar