Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Hantu Air Terjun

 Oleh Abun Burhanudin


Liburan sekolah tahun ini, Riza, Apdil, Sinta, dan Soni, berlibur ke sebuah kampung di Kuningan. Kita sebut saja kampung Cihanjuang. Di sana keluarga Riza punya rumah besar yang biasa dipakai berlibur setiap tahunnya. Di rumah itu ada dua air terjun. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan curug kembar. Kedatangan Riza dan tema-temannya langsung disambut oleh Bah Samaun dan Bi Puri, kedua pembantu setia pak Kadil, ayah Riza. 

Saat sampai ke sana, Riza, Apdil dan Sinta langsung masuk ke rumah. Sedangkan Soni masih diam termenung di luar.

Bi Puri heran, lalu menghampiri Soni dan bertanya. “Kenapa malah bengong, den..? Ayo masuk..! Bibi sudah nyiapin makan.. Aden pasti capek.. Ayo makan dulu.” Kata Bi Puri.

“Nanti dulu, bi.. Tadi sebelum ke sini, aku jalan-jalan dulu di sekitar Curug. Aku merasakan ada hal yang aneh.” Jawab Soni. Bi Puri bertanya, “ Apanya yang aneh, Den?”

Soni lalu bercerita, pas datang ke sini, dia dan yang lainnya tidak langsung ke rumah, karena Riza mengajak jalan-jalan dulu ke Curug. Tapi saat mau pulang, di dekat air terjun, tiba-tiba dirinya mendengar ada anak kecil yang menangis. Anehnya, teman-teman yang lain tak seorangpun yang mendengarnya. Soni sempat penasaran mau melihat. Tapi Riza, Apdil dan Sinta keburu jauh. Sonipun akhirnya tidak jadi dan mengejar mereka. “Sampai sekarang suara anak menangis itu masih terngiang-ngiang, bi. Masa sore-sore begini masih ada anak kecil di sana. Jangan-jangan ditinggalin oleh orang tuanya. Kasihan sekali ya bi?”

Mendengar cerita Itu, Bi Puri tampak pucat. Jantungnya terasa berdebar. Soni heran melihatnya. “Kenapa, Bi..? Kok sepertinya kaget?” Bi Puri tersentak. Dia mencoba menyembunyikan perasaanya. Bi Puri cari-cari alasan tak mau membahas lagi soal itu. Dia kembali menyuruh Soni masuk. Akhirnya Sonipun masuk.

Sementara itu, Riza, Apdil, dan Sinta, sudah bersiap-siap untuk makan. Soni muncul, tapi dia tidak ikut duduk bersama mereka. Riza merasa aneh. Lalu mengajak Soni segera makan. Apdil bilang agar Riza tidak peduli soal Soni. Memang dia sifatnya seperti itu. 

Soni menemui Bah Samaun, menanyakan di mana kamar mereka. Samaun menunjukannya. Soni segera masuk ke kamar itu. Ternyata jendela kamar itu menghadap ke Curug. Perasaan Soni terdorong untuk melihat keadaan di luar lewat jendela. Meskipun agak samar, tapi keadaan di air terjun bisa terlihat dengan jelas. Tampak olehnya, seorang gadis kecil berkaki pincang sedang duduk sendirian.

Baca Juga

https://abunburhanudin.blogspot.com/2024/07/aku-ditiduri-jin-piaraan-suamiku.html

Soni merasa iba. Dia lalu keluar lagi. Riza dan yang lainnya masih pada makan. Soni berjalan terburu. Riza makin heran dengan sikap Soni. Tapi lagi-lagi Apdil bilang agar Riza tidak mempedulikan Soni. Merekapun akhirnya tak peduli. Usai makan Riza dan yang lainnya lalu bermain PS atau permainan lainnya yang sudah tersedia.

Saking asiknya bermain game, tak terasa waktu sudah menunjukan jam 11 malam. Soni belum juga pulang. Riza dan teman-temannya mulai kuatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Soni, atau dia tersesat. Anak-anak itupun lalu pergi mencari Soni.

Kebetulan sekali saat itu bulan purnama. Keadaan di luar tampak terang. Mereka tak perlu membawa lampu senter. Riza, Apdil, dan Sinta menyusuri semua pelosok Curug mencari-cari Soni. Tapi tidak menemukannya juga. Riza dan yang lainnya makin cemas.

Waktu sudah menunjukan jam 12 malam. Tapi belum ada tanda-tanda dimana Soni berada. Riza dan yang lainnya mulai putus asa. Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Suaranya melengking menimbulkan aroma seram. Riza dan yang lainnya merasa merinding, terutama Sinta. Dia segara ngajak pulang. Riza bingung, karena Soni belum juga ditemukan. 

Tiba-tiba “Korosak..!” terdengar suara dari balik semak-semak. Riza dan yang lainnya kaget. Dada mereka berdebar. Bulu kudukpun berdiri. Sinta nampak sangat paling ketakutan, mengira ada hantu. Tak lama kemudian muncul seekor kucing dari balik semak-semak. “Dasar kucing sialan.. Bikin aku kaget saja,” kata Apdil.

Suara-suara lain, seperti burung hantu atau binatang lainnya terus terdengar, menambah suasana semakin seram. Sinta semakin tambah ketakutan. Riza akhirnya memutuskan untuk pulang. Soal Soni biar dicari saja besok. Akhirnya merekapun pulang.

Paginya, Riza dan yang lainnya sudah pada bangun. Riza bercerita kalau dirinya bermimpi seram, didatangi oleh hantu anak gadis berkaki pincang. Anehnya, mimpi yang dialami Apdil dan Sinta juga sama. Mereka semua heran. Jangan-jangan itu adalah hantu yang dantang ke impian mereka. Dari balik dinding, Bi Puri menguping pembicaraan mereka. Tampak wajah pembantu itu sangat sedih.

Riza dan yang lainnya teringat lagi pada Soni. Mereka semua sangat cemas. Anak-anak itu mau pergi lagi untuk mencari Soni. Tapi baru juga mau keluar, Soni sudah keburu datang. Riza bertanya, Soni menjawab kalau dia menginap di rumah teman barunya bernama Febi.

“Lain kali kalau mau pergi bilang-bilang.. Bikin semua orang cemas saja..” kata Apdil, kesal. Soni minta maaf. Dia tak sengaja merepotkan teman-temannya. Abisnya dia kasihan sama Febi yang tidur sendirian di rumahnya.

Seperti rencana sebelumnya, Riza selanjutnya mengajak teman-temannya berenang. Soni tidak mau ikut. Katanya dia sudah kepalang janji sama Febi mau main lagi ke rumahnya. Apdil yang sudah faham sifat Soni tidak peduli. Akhirnya anak-anak itu pergi tanpa dibarengi oleh Soni.

Setelah sarapan pagi, Soni pergi lagi sendirian, tujuannya ke rumah Febi. Ternyata Febi (kakinya pincang) sudah menunggu di air terjun. Soni senang. Merekapun akhirnya bermain berdua, tampak sangat asik. Febi minta dipoto. Soni lalu memotonya dengan menggunakan kamera HP. Selanjutnya, Febi mengajak Soni bermain di rumahnya. Di sana Soni kembali photo photo.

Soni bertanya, kenapa Febi tinggal sendirian di rumah. Kemana ayah ibunya. Febi tampak sedih lalu bercerita, bahwa orang tuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tinggalnya di dekat sini, tapi tidak mau peduli sama dia. Soni heran, masa sih rumah mewah seperti ini pemiliknya hanya bekerja sebagai pembantu. Selain itu kok tega ninggalin anak gadisnya sendirian di rumah?. Begitulah pertanyaan dalam hati Soni.

Melihat Soni diam, Febi ngajak Soni bermain lagi, main Game atau permainan anak lainnya. Mereka tampak asik hingga lupa waktu sudah sore. Sonipun pamit pulang. Febi meng-iyakan, dan meminta Soni untuk bermain lagi besoknya. Soni mengangguk lalu pergi.

Sesampainya di rumah, ternyata Riza, Apdil dan Sinta sudah datang. Apdil bilang kalau mereka sangat asik bermain di kolam renang. Airnya jernih, banyak ikannya. Pokoknya, mereka betah bermain di sana. Sonipun tak mau kalah. Dia juga bercerita soal Febi, teman barunya. Anaknya baik, rumahnya gede, mewah. maenannya banyak. Dia bebas bermain di sana, karena orang tuanya tidak ada. Riza merasa tertarik. “Kalau begitu, besok kita sama-sama main ke sana”. Yang lainnya setuju.

Malamnya, karena lelah, anak-anak itupun bisa cepat tidur. Kecuali Soni yang tampaknya belum datang rasa kantuknya. Waktu sudah hampir jam 12 malam, Soni tampak masih asik bermain game komputer yang sudah di sediain di kamar itu. Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara anak gadis yang sedang melantunkan tembang di kejauhan. Soni penasaran, membuka jendela. Tenyata yang sedang bernyani itu adalah Febi. Anak itu sedang duduk sendirian di dekat air terjun.

Soni heran. “Kok malam-malam begini Febi masih bermain. Tapi bagus juga. Aku belum bisa tidur. Sebaiknya aku temani saja dia.” Diam-diam Soni lalu keluar rumah.

Soni terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun. Entah kenapa, mendadak dia merasa seram. Bulu kuduknya berdiri. Soni sempat punya fikiran mau balik lagi. Tapi tiba-tiba terdengar suara Febi menangis. Soni kaget. Akhirnya walaupun merasa takut, Soni memaksakan diri menemui Febi. 

Soni sudah sampai di air terjun. Tampak Febi sedang duduk dia atas sebuah batu sambil menangis. Wajahnya yang pucat terlihat jelas terkena sinar bulan. Soni menghampirinya dan bertanya. Febi menjawab, katanya, sekarang dia sedang sedih meratapi nasibnya. Setiap kali dia merasa sedih, pasti main ke tempat ini. “Tapi sekarang kan sudah malam. Gimana kalau ada hantu?” kata Soni. Tiba Febi menatap beringas ke arah Soni. “Jangan sekali-kali menyebut kata itu.. Aku paling tidak suka.” Kata Febi. Soni kaget karena Febi marah. Diapun minta maaf. Soni kemudian menghibur Febi. Dia kembali photo-photo. Ternyata Febi sangat suka itu.

Tak terasa waktupun sudah menjelang pagi. Dari kejauhan terdengar suara beduk. Febi terperanjat, dan bilang, sudah waktunya dia pulang. Tanpa mendengar jawaban Soni, Febi langsung pergi. Soni melongo. Lalu berteriak, bahwa besok siang dia dan teman-temannya akan bermain ke rumah Febi. Tapi Febi diam saja, dan terus berjalan. Sonipun akhirnya pulang.

Sesampainya di rumah, tampak Riza dan yang lainnya masih pada ngorok. Soni tak kuat menahan ngantuk. Akhirnya diapun berbaring dan langsung tidur pulas. Dalam tidurnya Soni bermimpi sedang bermain bersama Febi di sebuah tebing di atas air terjun. Tiba-tiba ada dua orang lelaki berpakaian hitam mau menculik Febi. Febi ketakutan lalu berlari. Orang yang berpakian hitam terus mengejar. Akhirnya Febi mentok ke pinggir jurang, tak ada jalan lagi untuk kabur. Orang berpakaian hitam mengepung Febi. Febi panik, akhirnya dia menjatuhkan diri ke bawah jurang. 

Soni kaget. Dia segera berlari melewati jalan lain untuk menolong Febi. Sayang, sesampainya di sana, ternyata Febi sudah mati. Soni berteriak-teriak minta tolong. Akhirnya dia dibangunkan oleh Riza dan yang lainnya. Bah Samaun dan Bi Puri yang juga kaget mendengar suara teriakan Soni segera berdatangan ke kamar ini dan bertanya. 

Soni menceritakan mimpinya. Bah Samaun dan Bi Puri kaget mendengar nama Febi di sebut-sebut. Soni bilang kalau Febi adalah teman barunya. Diapun lalu bercerita sejak dirinya berkenalan dengan Febi sampai kejadian tadi malam di dekat air terjun.

Mendengar cerita itu, Bi Puri langsung menangis. Riza dan yang lainnya heran. Bi Puri akhirnya berterus terang, kalau Febi itu adalah anaknya. Dia sudah meninggal akibat kecelakaan terjatuh dari tebing, beberapa tahun yang lalu. Mayatnya ditemukan dibawah air terjun dengan keadaan kakinya yang tinggal sebelah. Potongan kaki yang satunya tidak ditemukan. Bi Puri juga bilang, bahwa dirinya benar-benar merasa sedih, sebab orang-orang sering bilang kalau Febi sering muncul jadi hatu. Mendengar itu, Riza dan yang lainnya merasa merinding. 

Soni tidak percaya. Jelas-jelas anak yang bermain dengannya itu adalah Febi bukan hantu. Diapun memperlihatkan photo-photo Febi yang ada di HP-nya. Alangkah kagetnya mereka, karena ternyata photo yang diperlihatkan Soni bukanlah Febi, tapi hanyalah photo-photo potongan kaki yang berlumuran darah. Riza dan yang lainnya makin merinding. Apalagi Soni yang baru sadar kalau ternyata selama ini dia bermain dengan roh halus. Saking socknya, Sonipun akhirnya pingsan.

Riza dan yang lainnya panik. Mereka segera menolong Soni. Tapi Soni tak juga siuman. Bah Samaun akhirnya memanggil Ustad Suleman. Dengan bantuan sang ustad ini, akhirnya Sonipun sadar. 

Ustad Suleman lalu bertanya, di mana pertama kali Soni bertemu dengan Febi. Soni bilang di dekat air terjun. Ustad Suleman minta diantar ke tempat itu.

Merekapun lalu pergi ke tempat yang ditunjukan oleh Soni. Sesampainya di sana, sang Ustad lalu memeriksa keadaan. Alangkah kagetnya mereka, saat melihat di sela-sela batu ada sebuah potongan kaki yang masih berlumuran darah. Ustad Suleman lalu mengambil potongan kaki itu.

Selanjutnya dilakukan upacara pemakaman Seperti umumnya menguburkan jenazah. Potongan kaki itu dikuburkan, dan disatukan dengan jasad Febi, yang makamnya berada di dekat batu kembar. Di sini Soni kembali sock. Karena ternyata yang disangkanya rumah Febi kemarin adalah kuburan.

Saat pulang dari kuburan, Soni melihat dua orang lelaki yang muncul dalam mimpinya mau menculik Febi. Soni lalu bilang kepada Ustad Suleman. Ustad Suleman dan warga segera menangkap kedua lelaki itu lalu mengintograsinya. Kedua lelaki itu mengaku, bahwa dulu mereka pernah berusaha menculik Febi karena dendam kepada Bah Samaun. Akhirnya ustad Suleman dan warga menyerahkan mereka ke polisi. Sejak itu, kisah hantu Febi tidak pernah terdengar lagi.


Sekian..


Posting Komentar

0 Komentar

Bottom Ad [Post Page]

Post Page Advertisement [Top]